Pengamat Sebut Kebijakan Food Estate di Pulau Jawa Berdampak Positif, Kok Bisa? 

muhammad farhan
ilustrasi food estate di Kalteng (Dok. Kementan)

"Food estate di sana dengan target yang sudah luar biasa besar, dan menargetkan daerah-daerah yang memang hutannya besar dan luas. Artinya yang dikorbankan itu memang adalah dengan dibabat dulu hutannya agar bisa menghasilkan lahan pertanian dengan jumlah yang besar," tutur Faisal.

Tak cuma itu, Faisal juga menyebutkan kebijakan food estate tersebut sebelumnya pernah diterapkan di zaman Presiden Soeharto. Kebijakan di era Soeharto juga dengan membuka lahan gambut sejuta hektar, sayang pembukaannya menggunakan cara pembakaran hutan.

Faisal menilai pembukaan lahan yang dilakukan dengan membakar hutan tersebut, khususnya yang banyak terjadi di luar pulau Jawa tidak menghasilkan produksi pertanian yang diharapkan. Malahan, lahan tersebut malah menghasilkan produksi emisi gas rumah kaca yang besar.

"Jadi artinya sudah terjadi emisi besar-besaran, dengan membakar hutan. Peremajaannya, hasilnya dalam bentuk pertanian, gagal," tutup dia

Editor : Puti Aini Yasmin
Artikel Terkait
Bisnis
16 jam lalu

Ketum Perbanas Hery Gunardi Ungkap Strategi Perbankan Hadapi Gejolak Ekonomi Global

Nasional
9 hari lalu

Bos Danantara Bertemu Pimpinan Moody’s di AS, Tegaskan Stabilitas Ekonomi RI

Megapolitan
13 hari lalu

Pengamat Ingatkan Implementasi Perda Kawasan Tanpa Rokok Jakarta Tak Bebani Pedagang Kecil

Nasional
17 hari lalu

Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang hingga 21 Februari 2026, Ini Daftar Wilayah Terdampak

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal