Harga sapi akan makin mahal saat tidak bisa memenuhi dengan cara impor. Misalnya, Indonesia hanya mengandalkan Australia, tapi populasi sapi di sana turun akibat banjir dan kebakaran.
"Di sisi lain, pertumbuhan konsumsi daging sapi di Indonesia 6,4 persen. Sementara pertumbuhan produksi hanya 1,3 persen, jadi konsumsi dan produksi akan semakin melebar. Ini akan terus terjadi," imbuh dia.
Sementara Ketua Umum Komunitas Sapi Indonesia Budiono mengatakan, salah satu yang menimbulkan gejolak harga adalah permintaan sapi saat Idul Adha. Menurut dia, permintaan sapi hidup pada Idul Adha akan sulit dibendung karena masyarakat membutuhkan sapi untuk hewan kurban. Berbeda dengan Idul Fitri, pemerintah bisa melakukan impor dalam bentuk daging beku, atau daging kerbau.
Akibat tidak seimbangnya supply dan demand, salah satu yang dikhawatirkan adalah dijualnya sapi betina produktif. Misalnya di Jawa Timur, populasi sapi betina produktif tinggal 50 persen. Hal itu tak lepas dari adanya pedagang yang mengambil untung sesaat.
"Payahnya lagi, semua sapi yang masuk ke Jakarta, semua dipotong. Tapi memang, di sisi lain tak ada industri yang bisa penuhi sapi. Bahkan daerah lain luar Jawa juga ambil sapi dari Jawa. Mestinya pemerintah ada solusi," imbuh dia.