Diketahui, sejumlah emiten big caps penggerak IHSG tampak mulai menunjukkan harapan pada penutupan perdagangan kemarin, seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) naik 0,70 persen, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) positif 0,85 persen, dan saham penghuni LQ45 lain yang terkoreksi tipis.
William memberi catatan, secara teknikal pola long legged hammer dapat membawa respons positif pelaku pasar yang mengharapkan terjadinya rebound. Namun, penguatan masih harus diuji terlebih dahulu di area resisten psikologis 7.000-an.
"Sehingga untuk hari ini, IHSG memiliki peluang untuk rebound terbatas dengan resistance yang diuji adalah pada 7.000–7.060. Jika penguatan masih terbatas di area ini dan mulai melemah kembali, maka arah tren IHSG masih melemah," tuturnya.
Sementara itu, secara garis besar fundamental makro dalam negeri terbilang cukup positif, di mana pertumbuhan ekonomi hingga kuartal I tahun ini mencapai 5,01 persen secara tahunan (yoy). Tetapi, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi RI pada April 2022 naik sebesar 0,95 persen secara bulanan (mtm), menjadi yang tertinggi sejak Januari 2017, sedangkan secara yoy, inflasi RI melejit 3,47 persen atau terbesar sejak Agustus 2019.
Lonjakan harga bahan pokok seperti minyak goreng, bensin, daging ayam ras, hingga tarif angkutan udara menjadi penyumbang utama inflasi RI.