Di samping itu, dalam acara tersebut juga terdapat pakar ekonomi dunia yang turut hadir diantaranya Managing Director of The KIT Knowledge Unit Mayada El-Zoghibi, ADB Country Director for Indonesia Jiro Tominaga serta Research Affiliate at Harvard University Beatriz Armendariz.
Tahun ini, BRI Microfinance Outlook 2024 mengusung tema terkait inklusi keuangan karena dalam tiga dekade terakhir sejak 1993, Indonesia telah berada dalam kelas negara berpendapatan menengah. Gill dan Kharas (2007) menyebut kondisi ini sebagai jebakan pendapatan menengah/middle income trap, yaitu situasi di mana suatu negara bertahan dalam kelas pendapatan menengah pada waktu yang lama dan gagal untuk menuju negara berpendapatan tinggi.
Sunarso mengungkapkan bahwa terdapat berbagai tantangan dalam aspek pembangunan, salah satunya adalah dalam hal akselerasi peningkatan inklusi keuangan. Karena peran krusial inklusi keuangan tersebut BRI menetapkan visi untuk menjadi "The Most Valuable Banking Group In Southeast Asia and Champion of Financial Inclusion" pada 2025.
“Salah satu visi 'Champion of Financial Inclusion' ini dimiliki BRI karena perusahaan memandang pentingnya peningkatan inklusi keuangan dilakukan agar kesejahteraan masyarakat terutama pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dapat meningkat dalam hitungan tahun,” ujarnya.
Melalui visi tersebut, BRI sebagai grup perbankan berupaya menjadi institusi jasa keuangan yang berperan dalam peningkatan, serta perluasan nilai bagi seluruh lapisan masyarakat. Penciptaan nilai itu bukan hanya dari sisi ekonomi, melainkan juga berupa kontribusi sosial terhadap lingkungan.