Meski begitu, Erick memahami kelangkaan minyak goreng memiliki dampak negatif bagi ekonomi Indonesia. Karena itu, isu minyak goreng seyogyanya menjadi persoalan bersama, baik pemerintah, BUMN, dan swasta.
Menurutnya, perusahaan pelat merah telah menyalurkan seperempat produksi CPO yang bukan minyak goreng ke minyak goreng. Sayangnya, stok tersebut belum memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Menurutnya, jika swasta bisa memaksimalkan perannya maka akan mampu mengatasi masalah minyak goreng. Erick mencatat gotong royong dan kebersamaan menjadi kunci menjaga pertumbuhan ekonomi.
Kerukunan dan stabilitas yang terjaga akan mendongkrak roda perekonomian lebih baik. Bagi Erick isu minyak goreng akan memiliki dampak negatif bagi ekonomi Indonesia.
"Yang namanya ekonomi perlu ada kerukunan. Kalau ingin ekonomi kita tumbuh perlu ada kerukunan itu," ucapnya.