Terdampak Covid-19, Perusahaan Ritel di Inggris PHK 24.000 Karyawan

Djairan
Sebanyak 24.000 karyawan terancam PHK, setelah perusahaan retail besar Inggris, Edinburgh Woolen Mill (EWM) berupaya menyelamatkan bisnis dari Covid-19. (Foto: Just Style)

LONDON, iNews.id - Bisnis ritel pakaian di Inggris manjadi salah satu sektor paling terdampak Covid-19. Terbaru, sebanyak 24.000 karyawan terancam Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) setelah perusahaan retail besar Edinburgh Woolen Mill (EWM) berupaya menyelamatkan bisnis mereka dari kehancuran.

Perusahaan yang membuat jaket wol legendaris Harris Tweed itu telah memperingatkan PHK besar-besaran sebelumnya. EWM mengatakan, pihaknya berencana menunjuk administrator untuk merestrukturisasi perusahaan. Pihaknya bahkan mempertimbangkan untuk menjual bagian dari unit bisnis grup yang mempekerjakan 24.000 orang.

"Kami telah mengajukan permohonan ke pengadilan untuk mendapatkan perlindungan, itu untuk menilai pilihan kami, pada akhirnya kami mengambil langkah dengan menunjuk administrator. Pastinya akan ada pemangkasan dan penutupan signifikan," ujar CEO EWM, Steve Simpson dikutip dari CNN Senin (12/10/2020).

Diketahui, perusahaan Inggris yang menghadapi kebangkrutan dapat menunjuk administrator untuk memberikan perlindungan terhadap kreditur. Tetapi, dengan langkah tersebut maka perusahaan secara langsung menyerahkan kendali kepada administrator, dan proses restrukturisasi yang dilakukan akan menyebabkan bisnis ditutup.

EWM adalah pengecer yang baru-baru ini memulai restrukturisasi besar-besaran, karena dampak Covid-19 yang menghancurkan penjualan pakaian. Sebelumnya, Marks & Spencer, TM Lewin, Harrods, pemilik Topshop Arcadia, jaringan apotek Walgreens dan Boots telah mengumumkan restrukturisasi lebih dulu, yang mengakibatkan PHK 12.800 karyawan. Bahkan department store Selfridges terpaksa menutup bisnis dan mem-PHK 450 pekerja pada Juli.

Menurut Patrick O'Brien, kepala riset ritel Inggris Global Data, EWM yang juga memiliki merek pakaian Peacocks dan Jaeger, berada dalam posisi yang sangat sulit karena banyak toko di utara Inggris, di mana lockdown semakin diperketat dibandingkan wilayah lain. Pelanggannya juga cenderung dari orang-orang yang lebih tua.

Editor : Dani M Dahwilani
Artikel Terkait
Health
13 jam lalu

Kasus Kanker Payudara di Indonesia Lebih Tinggi dari Inggris, Ini Penyebabnya

Internasional
3 hari lalu

Polisi Inggris Geledah Rumah Mantan Pangeran Inggris Andrew terkait Kasus Epstein

Nasional
4 hari lalu

Prabowo Target 15.000 Insinyur RI Kuasai Teknologi Chip

Nasional
4 hari lalu

RI Teken Kerja Sama Semikonduktor dengan Perusahaan Inggris, Target Kuasai Teknologi Chip Global

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal