Sebagai bank dengan fokus utama pada segmen mikro dan UMKM, BRI menempatkan keberlanjutan bukan sebagai inisiatif terbatas, melainkan sebagai strategi mass market. Hery menegaskan, keberlanjutan telah menjadi bagian dari DNA BRI dalam membiayai jutaan pelaku usaha setiap hari.
Salah satu hambatan utama pembiayaan berkelanjutan, lanjut Hery, adalah persepsi bahwa UMKM tidak bankable, berisiko tinggi, dan berimbal hasil rendah. Untuk menjawab tantangan tersebut, BRI menggeser pendekatan dari pembiayaan berbasis agunan menuju data-driven trust.
Melalui digital underwriting, pemanfaatan data transaksi dan perilaku, serta penguatan ekosistem usaha. Pendekatan ini memungkinkan BRI mengelola risiko pembiayaan UMKM secara lebih terukur, sekaligus memperluas skala pembiayaan berkelanjutan.
"Sustainability bukan inisiatif niche bagi kami, tetapi strategi mass market yang tertanam dalam cara kami membiayai jutaan pelaku usaha setiap hari," kata Hery.
Hery menegaskan,pembiayaan berkelanjutan tidak seharusnya berhenti pada instrumen seperti green bond atau proyek infrastruktur besar.
"Keberlanjutan yang nyata terjadi ketika pembiayaan menjangkau desa, petani, dan micro-entrepreneur. Ini bukan bantuan sosial, melainkan aktivitas ekonomi yang layak secara komersial," ujarnya.