"Kami ingin mendobrak stigma bahwa dunia trading itu kaku dan selalu berada di balik meja formal. Anak muda butuh ruang yang relatable untuk belajar dan mengeksplorasi potensi finansial secara transparan," ujar Kenzo.
Menurut Alif, meningkatnya perhatian generasi muda terhadap dunia finansial dan perkembangan teknologi digital membuka peluang bagi hadirnya metode edukasi yang lebih interaktif.
Ia melihat anak muda saat ini terbiasa memperoleh informasi melalui pengalaman visual dan aktivitas yang berlangsung secara langsung. Karena itu, edukasi pasar finansial menurutnya juga dapat dikemas dengan pendekatan yang lebih dinamis tanpa menghilangkan aspek pengetahuan dan risiko.
Kegiatan di Malang menjadi salah satu contoh pendekatan tersebut. Kota yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan dan komunitas anak muda itu dipilih untuk memperluas ruang belajar finansial di luar pusat ekonomi nasional.
Konsep tersebut juga mendapat perhatian dari komunitas trader karena menghadirkan simulasi kondisi pasar secara langsung saat agenda ekonomi penting berlangsung.