“Menahan desire today untuk benefit the future,” ujar Luqman.
Meski begitu, Luqman menegaskan bahwa melakukan self-reward bukan sesuatu yang salah. Ia bahkan memberikan contoh sederhana soal kebiasaan membeli minuman yang sedang digemari anak muda.
“Beli matcha enggak ada yang salah,” tuturnya.
Namun, persoalannya bukan terletak pada boleh atau tidaknya seseorang melakukan self-reward. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menentukan porsi uang yang akan digunakan untuk menikmati hasil kerja dan berapa yang dialokasikan untuk investasi.
Dia mengingatkan kepada generasi muda agar investasi tidak ditempatkan sebagai uang sisa setelah seluruh pengeluaran dan keinginan terpenuhi.
“Hal yang untuk diinvestasikan jangan sebagai residual atau jangan sebagai sisa,” ucapnya.
Menurutnya, jika investasi hanya dilakukan dari uang yang tersisa di akhir bulan, ada kemungkinan tidak ada lagi uang yang bisa dialokasikan.