Rupiah Sepekan Anjlok 1,88 Persen ke Rp16.595, Level Terburuk sejak Juni 1998

Anggie Ariesta
Nilai tukar rupiah anjlok 1,88 persen dalam sepekan perdagangan. (Foto: dok iNews)

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menuturkan, aliran dana asing keluar berasal dari jual neto Rp7,31 triliun di pasar saham, Rp1,24 triliun di Surat Berharga Negara (SBN), dan Rp1,78 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

“Berdasarkan data transaksi 24-27 Februari 2025, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp10,33 triliun,” ucap Ramdan dalam keterangannya.

Sejalan dengan depresiasi rupiah, imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun mengalami kenaikan, dari 6,88 persen pada, Kamis (27/2/2025) menjadi 6,93 persen pada, Jumat (28/2/2025). Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 107,24, yang turut menekan nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, yield US Treasury (UST) 10 tahun justru mengalami penurunan ke level 4,260 persen, yang menunjukkan meningkatnya minat investor global terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi.

Bank Indonesia memastikan akan terus memantau perkembangan pasar keuangan dan mengambil langkah strategis guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta ketahanan ekonomi eksternal Indonesia.

Editor : Aditya Pratama
Artikel Terkait
8 jam lalu

Purbaya Pastikan Pemindahan Dana SAL ke Himbara Tak Ganggu Koordinasi dengan BI

1 hari lalu

BI Catat Penyerapan Tenaga Kerja Melambat di Triwulan II 2026, Ini Datanya

4 hari lalu

Terungkap! Ini Alasan Secret Service hingga FBI Ikut Uji Keaslian Dolar AS Sitaan Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

4 hari lalu

Mengapa Dolar Bertahan di Rp18.000?

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal