BPS Sebut Deflasi Juli Tidak Wajar, Ini Sebabnya

Rina Anggraeni
Kepala BPS, Suhariyanto. (Foto: iNews.id/Muhammad Aulia)

JAKARTA, iNews.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks harga konsumen (IHK) pada Juli 2020 deflasi sebesar 0,10 persen. Deflasi tersebut dinilai tak wajar karena terjadi dua bulan setelah Lebaran.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, deflasi biasanya baru terjadi pada bulan ketiga setelah Lebaran.

"Apakah wajar di bulan kedua sesudah ramadan dan lebaran malah deflasi? Coba kita lihat 2019, dua bulan sesudah Ramadan Lebaran tejradi deflasi? Tidak. Dia terjadinya bulan ketiga," katanya, Senin (3/8/2020).

Menurut Suhariyanto, ketidakwajaran terjadi lantaran kondisi pandemi Covid-19 yang memengaruhi daya beli masyarakat. Akibatnya, inflasi pun terganggu.

"Seperti yang saya sampaikan pergerakan inflasi tahun ini beda jauh dengan tahun sebelumnya karena Covid-19," ucapnya.

Pria yang akrab disapa Kecuk ini menambahkan, tahun sebelumnya ketika dalam keadaan normal Ramadan dan Lebaran jadi puncak tingginya inflasi. Pasalnya, permintaan meningkat dan uang beredar banyak.

"Namun itu tidak terjadi tahun ini, ya memang tidak tidak wajar karena situasinya memang tidak normal," kata Suhariyanto.

Editor : Rahmat Fiansyah
Artikel Terkait
Health
12 jam lalu

Campak Lebih Agresif daripada Covid-19? Ini Faktanya!

Nasional
3 hari lalu

Inflasi RI di Februari 2026 Tembus 0,68%, Dipicu Harga Daging Ayam hingga Emas Perhiasan

Bisnis
3 hari lalu

Surplus Neraca Perdagangan RI Menyusut ke 0,95 Miliar Dolar AS di Awal 2026

Bisnis
3 hari lalu

BPS Catat Impor RI Januari 2026 Melonjak 18,21% jadi 21,20 Miliar Dolar AS

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal