Pekan lalu, Perdana Menteri Inggris yang baru Liz Truss mengumumkan paket fiskal darurat yang membatasi tagihan energi rumah tangga tahunan sebesar 2.881,90 dolar AS untuk dua tahun ke depan, dengan jaminan yang setara untuk bisnis selama enam bulan ke depan dan dukungan lebih lanjut untuk kelompok rentan.
Analis memperkirakan langkah-langkah tersebut akan menghabiskan dana publik sekitar 130 miliar poundsterling, yang secara tajam mengurangi prospek inflasi dalam jangka pendek, tetapi meningkatkannya dalam jangka menengah.
Sementara itu, Bank of England (BoE) akan mengumumkan keputusan kebijakan moneter terbaru pada Kamis waktu setempat setelah ditunda karena kematian Ratu Elizabeth II. Diperkirakan BoE akan menaikkan suku bunga 75 basis poin untuk menurunkan inflasi.
Pada pertemuan terakhirnya, BoE memproyeksikan inflasi akan mencapai puncaknya pada 13,3 persen sebelum akhir tahun. Karena itu, pembuat kebijakan akan menilai kembali pandangan mereka sehubungan dengan pengumuman batas energi baru Truss.
"Dengan harapan, batas tagihan energi dapat berarti inflasi sekarang mendekati puncaknya, meskipun penurunan bulan lalu kemungkinan bisa menjadi kebetulan dan kita mungkin melihat inflasi naik lebih lanjut di bulan-bulan mendatang," ujar Head of Fixed Interest Research di Quilter Cheviot, Richard Carter.
"Sementara rencana energi dapat membantu, itu datang dengan biaya tingkat pinjaman dan pengeluaran pemerintah yang lebih tinggi yang dapat mendorong Bank of England untuk menaikkan suku bunga lebih jauh dari yang diperkirakan sebelumnya," imbuh dia.