Pandemi Covid-19 Menuju Akhir, Sri Mulyani Waspadai Ketidakpastian Global

Michelle Natalia
Menkeu Sri Mulyani menyebut ada risiko downside yang membayangi ekonomi global meski pandemi Covid-19 menuju akhir. (Foto: Tangkapan Layar)

JAKARTA, iNews.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati menyebut ada risiko downside yang membayangi ekonomi global meski pandemi Covid-19 menuju akhir. Di tengah situasi global yang serba tidak pasti, dia bersyukur kondisi ekonomi Indonesia masih kuat.

"Situasi ekonomi global saat ini sangat menantang. Pandemi Covid-19 memang sudah menurun, dan WHO baru-baru ini mengumumkan bahwa kondisi kedaruratan COVID-19 sudah di titik penghujungnya," ujar Sri Mulyani dalam Webinar Muslim World Resilience in Anticipating the Global Economic Uncertainties di Jakarta, Rabu (10/5/2023).

Sri Mulyani menyebut, Indonesia sendiri sudah menghentikan PPKM dan diyakini hal ini akan mendorong pemulihan ekonomi yang lebih kuat. Hanya saja, meski risiko pandemi sudah mereda, lanskap ekonomi global menghadapi berbagai tantangan dan ini mengancam pemulihan ekonomi global.

"Pertama, karena perang di Ukraina belum berakhir dan tentunya tensi geopolitik menciptakan tekanan yang sedemikian besar terhadap komoditas, dan itu membuat ketidakpastian global. Belum lagi inflasi yang tinggi di banyak negara karena adanya fragmentasi geoekonomi," tuturnya.

Dia mencontohkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat (AS) yang telah memutuskan Inflation Reduction Act dan di Eropa ada Carbon Border Adjustment Policy. Ini tentunya akan memberikan tekanan tambahan terhadap negara yang mengekspor ke negara-negara tersebut, dan juga mempengaruhi arus investasi.

"IMF misalnya sudah mengumumkan bahwa ekonomi global akan mengalami perlambatan, dengan pertumbuhan yang diproyeksikan lebih rendah, hanya 2,6 persen di 2023, dan untuk tahun depan sedikit meningkat di 3,0 persen," ucap Sri Mulyani.

Dalam dua tahun terakhir, pulihnya penerimaan Indonesia menunjukkan performa yang menakjubkan. "Ini juga didukung oleh aktivitas ekonomi yang lebih kuat, harga komoditas yang tinggi, dan juga meningkatnya penerimaan dari reformasi pajak," katanya.

Editor : Aditya Pratama
Artikel Terkait
18 hari lalu

Gelombang Panas Dahsyat! WHO Peringatkan Eropa Hadapi Minggu-Minggu Mematikan

20 hari lalu

Iran Berduka, Jutaan Pelayat Padati Prosesi Pemakaman Ali Khamenei di Teheran

21 hari lalu

Ganas! Gelombang Panas Lebih Dahsyat Akan Terjang Eropa, Suhu Capai 43 Derajat Celsius 

29 hari lalu

1.300 Orang Meninggal Dunia Imbas Gelombang Panas di Eropa, Prancis Terpanggang!

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal