“Kami justru mendukung saja, karena ini bagus untuk rekonstruksi ekonomi nasional. Selama ini masih banyak pembiayaan condong ke sektor korporasi seperti properti besar," ujarnya.
Herman menyampaikan, dengan integrasi ini, BRI, Pegadaian dan PNM akan menjadi lebih kuat dari sisi data dan penghimpunan dana masyarakat. Hal ini pada akhirnya akan berdampak pada bunga yang lebih terjangkau dan akselerasi pembiayaan yang lebih kuat ke segmen mikro.
Dia pun berharap, tren ini akan memperbaiki kualitas ekonomi dari sektor ultra mikro sehingga diikuti lebih banyak lagi bank-bank nasional lainnya. Herman menjelaskan segmen mikro terbukti paling tahan dalam masa pandemi.
Shock awal pandemi dapat dibalikkan kembali dengan peningkatan operasional bisnis dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini pun cukup membantu banyak perusahan di sektor keuangan termasuk BRI dalam menjaga kualitas pembiayaan di masa pandemi Covid-19.
Di samping itu, Herman menyampaikan Komisi VI pun akan tetap mengawal kinerja holding ultra mikro untuk tetap menjalankan misinya mengembangkan UMKM. "Kami pun juga akan tetap mengawal perusahaan tersebut tetap sehat dan mampu menghasilkan laba yang baik untuk pemegang saham khususnya pemerintah," ucapnya.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, saat ini 65 persen dari kurang lebih 54 juta pelaku usaha ultra mikro belum terlayani lembaga keuangan formal. Padahal, pelaku usaha mikro mendominasi wirausahawan di Indonesia.
Sinergi tiga BUMN untuk ultra mikro ditargetkan memperluas pendanaan bagi kurang lebih 29 juta pelaku usaha ultra mikro di 2024 mendatang.