Mereka menuduh adanya kelompok oportunis dan partai politik yang menunggangi aksi damai mereka untuk memutarbalikkan tujuan demonstrasi. "Gerakan kami tidak menerima kelompok oportunis atau anggota partai politik yang mencoba membajak atau memutarbalikkan tujuan. Kami tidak butuh mereka sebelumnya dan sekarang," bunyi pernyataan tersebut.
Kerusuhan ini sendiri dipicu oleh kebijakan pemerintah yang memblokir media sosial, ditambah dengan kekecewaan generasi muda terhadap kondisi ekonomi yang lesu, sulitnya mencari pekerjaan, serta masalah korupsi yang merajalela. Desakan agar militer turun tangan ini menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap pemerintah, yang dinilai gagal mengendalikan situasi dan merespons aspirasi generasi muda.