Sejumlah sumber di Washington mengungkapkan kemarahan Trump mencapai puncaknya saat membahas eskalasi konflik di Lebanon. Bahkan, menurut laporan yang sama, Trump menyebut Netanyahu bertindak tidak rasional dan melontarkan kata-kata keras selama percakapan berlangsung.
Meski mengakui kelompok Hizbullah meningkatkan serangan terhadap wilayah Israel dalam beberapa hari terakhir, Trump menilai respons militer Tel Aviv terlalu berlebihan. Ia khawatir operasi besar-besaran di Lebanon justru memperburuk stabilitas kawasan dan merusak berbagai upaya diplomatik yang tengah dijalankan AS.
Kekhawatiran terbesar Washington saat ini adalah terhentinya proses perundingan dengan Iran. Serangan Israel ke Lebanon disebut menjadi pemicu memburuknya komunikasi antara Teheran dan Washington yang selama beberapa bulan terakhir berupaya membuka jalur diplomasi.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan Teheran siap menghentikan seluruh perundingan dengan AS apabila Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon. Iran juga menegaskan akan melanjutkan konfrontasi terhadap Israel jika operasi militer tersebut tidak dihentikan.
Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Iran telah menangguhkan komunikasi tidak langsung dengan AS yang selama ini difasilitasi Pakistan sebagai mediator. Pertukaran dokumen dan draf perundingan disebut dihentikan hingga tuntutan Iran terkait situasi di Gaza dan Lebanon dipenuhi.
"(Tim negosiasi Iran akan menghentikan) pembicaraan dan pertukaran naskah melalui mediator sampai tuntutan mereka mengenai Gaza dan Lebanon dipenuhi," demikian laporan Tasnim.
Perkembangan terbaru ini menjadi tantangan serius bagi pemerintahan Trump. Di satu sisi, Washington berusaha menjaga hubungan strategis dengan Israel, namun di sisi lain juga tengah mendorong tercapainya kesepakatan dengan Iran demi menjaga stabilitas Timur Tengah. Meluasnya operasi militer Israel di Lebanon kini dinilai berpotensi menggagalkan seluruh proses diplomasi yang telah dibangun selama berbulan-bulan.