JAKARTA, iNews.id - Batu amandel atau tonsillolith merupakan gumpalan keras yang terbentuk di celah-celah amandel akibat penumpukan sisa makanan dan mikroorganisme. Meski kerap dianggap sepele, kondisi ini dapat menimbulkan bau mulut, rasa mengganjal di tenggorokan, hingga kesulitan menelan jika ukurannya membesar.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Adam Prabata, menjelaskan pembentukan batu amandel melalui sumber ilmiah berjudul Tonsillolith: Not just a stone but a living biofilm. Batu amandel terbentuk ketika sisa makanan dan mikroorganisme menumpuk di kripta tonsil atau celah-celah pada permukaan amandel, kemudian mengalami proses kalsifikasi atau pengerasan.
“Tonsillolith terbentuk dari akumulasi sisa makanan dan mikroorganisme di kripta tonsil yang kemudian mengalami kalsifikasi,” tulis dr. Adam dalam utas di akun Threads miliknya, dikutip Senin (12/10/2026).
Menurutnya, ukuran dan tingkat pengerasan batu amandel dapat berubah seiring waktu. Gumpalan tersebut bisa mengecil atau membesar, bergantung pada proses yang terjadi di dalam celah amandel.
Selain itu, batu amandel dapat menjadi tempat berkumpulnya bakteri. Jika kondisi tersebut berkembang lebih lanjut, risiko infeksi yang lebih serius juga perlu diwaspadai.