Mengenal Cherophobia, Fobia Takut Bahagia

Siska Permata Sari
Alami depresi. (Foto: Independent)

JAKARTA, iNews.id - Merasakan kebahagiaan dalam hidup adalah impian setiap orang di dunia, berbagai gender, dan segala usia. Namun ternyata, sebagian kecil dari populasi manusia di dunia memiliki semacam sindrom ketakutan akan perasaan bahagia.

Sindrom itu dinamakan cherophobia, di mana penderitanya merasa takut atau fobia terhadap perasaan yang menyenangkan tersebut. Nama ini berasal dari kata Yunani, Chairo yang berarti "saya bersuka cita". Artinya, cherophobia memiliki arti ketakutan akan merasakan kesenangan atau kebahagiaan.

Meski istilah ini tak ada dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), yang merupakan sumber utama untuk mendiagnosis kondisi kesehatan mental. Namun menurut Healthline, beberapa ahli medis mengklasifikasikan cherophobia sebagai bentuk kecemasan.

Psikiater Carrie Barron menulis di Psychology Today terkait fenomena kondisi mental cherophobia atau disebut hedonophobia, yang diartikan sebagai kepemilikan rasa takut akan kesenangan.

Melansir dari Independent, Kamis (12/4/2018), Barron menyimpulkan jika ada hubungan antara kondisi mental tersebut dengan kemarahan, hukuman di masa kecil, atau trauma yang terjadi di masa lalu.

"Jadi, sekarang mereka takut merasakan kebahagiaan karena berpikir nanti hal-hal yang tidak diinginkan akan datang," kata Barron.

Ada beberapa tanda-tanda seseorang mengidap cherophobia. Berikut gejala-gejalanya, menurut Healthline, seperti dilansir dari Business Insider.

1. Rasa cemas berlebihan ketika diundang ke acara pertemuan sosial.
2. Tidak menggunakan atau melewatkan peluang yang dapat membawa perubahan positif bagi kehidupan Anda karena perasaan takut bahwa hal yang buruk akan terjadi.
3. Menolak untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang menyenangkan.
4. Berpikir jika merasakan bahagia, artinya suatu yang buruk akan terjadi kemudian.
5. Berpikir jika kebahagiaan dapat membuat Anda menjadi orang yang buruk atau lebih buruk.
6. Percaya bahwa menunjukkan kebahagiaan itu buruk untuk Anda, teman, atau keluarga.
7. Berpikir bahwa mencoba bahagia adalah membuang-buang waktu dan usaha yang sia-sia.

Editor : Tuty Ocktaviany
Artikel Terkait
Nasional
11 hari lalu

Perempuan Coba Bunuh Diri di Istana Merdeka, Polisi Sebut Dipicu Masalah Keluarga

Health
25 hari lalu

Kesehatan Mental Anak Tak Boleh Diabaikan, Bisa Picu Tindakan Ekstrem!

Nasional
25 hari lalu

Menkes: Ribuan Anak Indonesia Bergejala Depresi dan Kecemasan

Health
26 hari lalu

Reza Arap Didiagnosis Major Depressive Disorder, Penyakit Apa Itu?

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal