JAKARTA, iNews.id - Kompetisi Kontes Dangdut Indonesia (KDI) Gerbang 8 bukan sekadar ajang adu kualitas vokal. Lebih dari itu, panggung ini menjadi ruang bagi para peserta untuk memperjuangkan mimpi, harapan, dan masa depan mereka. Setiap nada yang dinyanyikan membawa kisah hidup yang penuh makna.
Salah satunya Tika Tisya asal Muara Enim. Perpisahan orang tua mengubah jalan hidupnya. Dalam kondisi yang tidak mudah, Tika tetap bertahan dan menguatkan diri. Tekadnya membawanya melangkah ke panggung KDI sebagai bukti bahwa keterbatasan tidak pernah mematikan mimpi.
Dari Makassar, Fitri hadir dengan kisah ketekunan dan konsistensi. Latihan keras tanpa mengenal lelah, disertai doa serta dukungan keluarga, menjadi fondasi langkahnya. Keyakinan itulah yang akhirnya mengantarkannya berdiri di panggung KDI.
Sementara itu, Arina Shafa dari Lubuk Linggau harus membagi waktu antara menyelesaikan sekolah dan mengembangkan bakat bernyanyi.
Di usia muda, dia menyimpan mimpi besar untuk bertemu kembali dengan sang ayah setelah bertahun-tahun terpisah. Panggung KDI menjadi harapan yang digenggam dengan sepenuh hati.
Kisah penuh tanggung jawab datang dari Akew Bastian asal Bandung. Sebagai satu-satunya laki-laki di keluarga setelah kepergian ayah, dia memilih untuk bangkit. Kesabaran dan kegigihan membuahkan hasil, hingga kini Akew mampu membantu perekonomian keluarga lewat bakat yang dimiliki.