Membedah Pemikiran Denny JA, Beragama di Era Google

Yudistiro Pranoto

JAKARTA, iNews.id - Di manakah posisi agama di tengah perkembangan sains dan teknologi yang kini menjadi kekuatan kreatif peradaban? Bagaimana cara kita menempatkan keimanan kita di antara keimanan orang lain yang kian asertif di era Google saat ini? Dan sejauhmana pula Google telah mengubah cara pandang kita terhadap agama?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang coba dibahas oleh Ahmad Gaus dalam acara bedah buku karyanya yang berjudul Era Ketika Agama Menjadi Warisan Kultural Milik Bersama: Sembilan Pemikiran Denny JA soal Agama di Era Google, penerbit Cerah Budaya Indonesia, 2023. 

Acara yang berlangsung di Rumah Kearifan (House of Wisdom), Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, pada 1 April 2023, itu dihadiri puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta.  Tampak pula dosen Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka), Yogyakarta, Prof. Dr. Euis Nurlaelawati, dan pakar pendidikan nilai (values education) dari UIN Suka, Dr. Muqowim selaku pembahas buku. 

Gaus mengawali pembahasannya dengan menguraikan pandangan-pandangan Denny JA sebagai seorang ilmuwan yang bergelut dengan riset-riset kuantitatif. Selama ini, ujarnya, kita lebih banyak mendengar isu-isu keagamaan dinarasikan oleh para ulama, mubaligh, dan sarjana-sarjana Islam. Jarang sekali kita mempertimbangkan pandangan ilmuwan non-agama. Padahal pandangan mereka tidak kurang pentingnya karena menawarkan perspektif yang berbeda. “Pandangan para agamawan itu cenderung apologetik dan subjektif karena tujuannya dakwah. Sedangkan pandangan ilmuwan sosial seperti Denny JA itu objektif dan empirik karena didasarkan pada hasil riset kuantitatif,” ujar Gaus. 

Dalam buku setebal 164 halaman itu, Gaus menguraikan pandangan Denny JA seputar pergeseran pemahaman agama di era Google. Ia merujuk data. Di negara yang indeks kebahagiaannya tinggi (World Happiness Index), umumnya level beragama masyarakatnya rendah. Negara yang paling mampu membuat warganya bahagia, sebagaimana diukur oleh World Happines Index, populasi di negara itu cenderung menganggap agama tak lagi penting dalam kehidupan mereka (diukur dari religiosity index).

Editor : Yudistiro Pranoto
Artikel Terkait
Photo
5 bulan lalu

AI Google Bantu 200 Ribu Petani Kecil di Asia Tenggara

Photo
5 bulan lalu

Google AI Dukung Pendidikan Bermutu di Indonesia

Photo
9 bulan lalu

Pemikiran Denny JA Soal Spiritualitas Masuk Kampus

Photo
11 bulan lalu

Bedah Teori Denny JA dan Pembangunan Berkelanjutan

Photo
11 bulan lalu

Teori Baru Hubungkan Sosiologi Agama dengan Revolusi AI

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal