JAKARTA, iNews.id - Pengenalan gejala perdarahan menjadi pintu awal yang krusial dalam diagnosis hemofilia dan gangguan perdarahan lain. Dalam peringatan Hari Hemofilia Sedunia setiap 17 April, Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) bersama World Federation of Hemophilia (WFH) menekankan tema “Diagnosis: First Step to Care” sebagai ajakan global untuk mempercepat deteksi dini.
Presiden WFH, Cesar Garrido, menegaskan bahwa diagnosis akurat adalah gerbang menuju pengobatan. Namun, hambatan akses dan keterbatasan fasilitas membuat banyak kasus tidak teridentifikasi. Secara global, sekitar tiga perempat penderita hemofilia diperkirakan belum terdiagnosis.
Hemofilia sendiri merupakan gangguan pembekuan darah akibat kekurangan faktor VIII (hemofilia A) atau faktor IX (hemofilia B). Gejala yang kerap muncul meliputi lebam tanpa sebab jelas, nyeri dan pembengkakan sendi, mimisan berulang, hingga perdarahan berkepanjangan setelah tindakan medis. Tanpa kewaspadaan terhadap tanda awal ini, diagnosis sering terlewat.
Di Indonesia, hingga 2025 tercatat 3.801 pasien telah terdiagnosis, namun angka tersebut baru mencerminkan sekitar 1 dari 10 kasus yang diperkirakan ada. Ketua HMHI, Novie Amelia Chozie, menyebut keterbatasan fasilitas laboratorium dan distribusi tenaga ahli sebagai kendala utama. Hanya sebagian provinsi yang mampu melakukan pemeriksaan faktor pembekuan darah untuk konfirmasi diagnosis.
Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan turut memperlebar kesenjangan akses layanan kesehatan. Akibatnya, keterlambatan diagnosis berisiko menurunkan kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.
Sebagai bagian kampanye, HMHI menyalakan ikon Jakarta seperti Monas dan Bundaran HI dengan warna merah pada 17 April 2026. Upaya ini diharapkan meningkatkan kesadaran publik bahwa mengenali gejala sederhana dapat menjadi langkah awal menyelamatkan kualitas hidup.