JAKARTA, iNews.id - Bakso Lapangan Tembak Senayan (BLTS) yang berdiri sejak 1972 di kawasan Senayan, Jakarta, menunjukkan ketahanan bisnis melalui adaptasi operasional selama lebih dari lima dekade. Bermula dari pencatatan manual menggunakan nota fisik dan kalkulator, kini perusahaan tersebut telah bertransformasi menjadi entitas bisnis yang terintegrasi secara digital pada 2026.
Ekspansi ke berbagai kota besar di Indonesia membawa konsekuensi meningkatnya kompleksitas operasional. Sistem manual yang sebelumnya digunakan dinilai menyimpan sejumlah risiko, mulai dari pencatatan transaksi yang tidak terintegrasi, kesalahan penghitungan stok bahan baku, hingga potensi kecurangan akibat lemahnya kontrol internal. Kondisi ini menjadi tantangan dalam menjaga efisiensi dan margin keuntungan.
General Manager PT Boga Suryo Buwono, Sukotjo, menyebut pandemi Covid-19 pada 2020 sebagai titik balik transformasi. Penutupan gerai fisik mendorong perusahaan mengalihkan strategi ke layanan pesan-antar berbasis digital serta memperkuat pemasaran daring. “Untuk menjaga pertumbuhan dan profit, manajemen operasional harus beralih ke sistem digital. Dulu sinkronisasi antara kasir dan dapur sulit, kini dapat teratasi lebih efisien,” ujarnya.
Sebagai bagian dari transformasi, BLTS mengadopsi sistem Point of Sale digital HelloBill. Platform ini memungkinkan pengawasan operasional secara menyeluruh, mulai dari manajemen inventaris, produktivitas staf, hingga laporan penjualan secara real-time berbasis cloud.
Chief of Product OttoDigital Group, Murti Daryandono, menjelaskan bahwa sistem tersebut dirancang untuk membantu pelaku usaha mengambil keputusan berbasis data. Fitur pencatatan transaksi offline, pengelolaan inventori, hingga pemantauan terpusat melalui sistem Headquarter dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus meminimalkan risiko kebocoran keuangan, terutama bagi bisnis dengan banyak cabang.