Sementara Iran telah mengakui telah memasok Moskow dengan sejumlah drone. Akan tetapi, menurut Teheran, drone-drone itu dikirim sebelum Rusia melancarkan agresi ke negeri tetangganya pada Februari lalu.
Inggris, Prancis, Jerman, Amerika Serikat, dan Ukraina mengatakan, pasokan drone buatan Iran ke Rusia melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB 2015 tentang kesepakatan nuklir Iran. Mereka ingin Guterres mengirimkan pejabat ke Kiev untuk menyelidiki masalah itu.
Dalam sebuah laporan ke Dewan Keamanan PBB awal bulan ini, Guterres mengatakan, para pejabat PBB sedang memeriksa seluruh informasi yang ada dan setiap temuan akan dilaporkan ke dewan pada waktunya.
Ketika ditanya ihwal tekanan yang dia hadapi, Guterres mengatakan, tuduhan Barat tentang peran Iran dalam memasok drone yang dipakai Rusia di Ukraina sedang didalami. Hasil pendalaman informasi itulah nanti akan dijadikan sebagai pertimbangan apakan PBB perlu mengirimkan pejabat ke Ukraina atau tidak.
Kepada Dewan Keamanan PBB, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia mengatakan, pejabat PBB seharusnya tidak tunduk pada tekanan dari negara-negara Barat. “Setiap hasil penyelidikan palsu ini ... batal demi hukum,” ucapnya.
Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengatakan Iran tidak pernah mengirimkan barang apa pun yang dilarang oleh Dewan Keamanan ke Rusia. Dia juga mengatakan, drone Iran yang dipasok ke Rusia sebelum Februari tidak dilarang oleh dewan tersebut dan belum dikerahkan untuk digunakan dalam konflik yang sedang berlangsung di Ukraina.