RIYADH, iNews.id - Arab Saudi menolak mentah-mentah tawaran Israel untuk bergabung dalam kampanye militer menyerang kelompok HouthiYaman. Arab Saudi menjadi target serangan milisi yang didukung Iran tersebut sejak Juli dan ekskalasinya semakin meningkat sepekan terakhir.
Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) menegaskan penolakan itu, meski ada campur tangan Amerika Serikat (AS) untuk membantu lobi.
Surat kabar Haaretz, mengutip keterangan sumber pejabat Israel, melaporkan Pangeran MBS tidak tertarik terhadap bantuan militer Israel. Kerja sama militer Arab Saudi dan Israel akan memicu reaksi keras, bukan hanya dari publik internasional, bahkan kalangan dalam negeri.
Sumber pejabat lain mengatakan, Israel berharap kerja sama militer dengan Arab Saudi akan memperkuat hubungan bilateral kedua negara untuk membuka jalan menuju normalisasi hubungan diplomatik di bawah Perjanjian Abraham.
Arab Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan tetap memegang teguh sikap normalisasi hubungan dengan Israel hanya akan terwujud jika Palestina merdeka.
Laporan ini muncul di tengah meningkatnya serangan milisi Houthi ke Arab Saudi, termasuk menargetkan Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, yang menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai ratusan lainnya.
Eskalasi Saudi-Houthi kembali meningkat pada Juli lalu setelah kedua pihak mencapai kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi PBB pada April 2022. Sebelum itu Saudi, yang memimpin pasukan koalisi untuk Yaman, terlibat konflik bersenjata sejak Maret 2015. Tujuannya mengembalikan pemerintahan sah Yaman yang diakui secara internasional yang digulingkan Houthi pada 2014.