AS dan PBB Kecam Kekerasan Aparat Myanmar usai 1 Perempuan Kritis Tertembak di Kepala

Djairan
Polisi dan demonstran saling berhadapan dalam aksi menentang kudeta militer di Myanmar. (Foto: Reuters)

Avinash Paliwal, dosen senior hubungan internasional di Sekolah Studi Oriental dan Afrika Universitas London, memperkirakan Myanmar tidak akan terisolasi seperti pemerintahan militer di masa lalu. China, India, hingga Jepang tampaknya tidak mungkin memutuskan hubungan dengan negara itu.

“AS dan negara Barat lainnya bisa saja memberikan sanksi, tetapi kudeta ini dan konsekuensinya akan berdampak dan menjadi cerita Asia, bukan bagi Barat,” kata Paliwal.

Militer di bawah komando Jenderal Min Aung Hlaing mengambil alih pemerintahan Myanmar atas dasar tuduhan kecurangan dalam pemilihan 8 November oleh partai Suu Kyi, NLD. Pada Selasa (9/2/2021) malam, polisi menggerebek markas NLD di Yangon, seperti yang dikonfirmasi oleh anggota parlemen.

Editor : Ahmad Islamy Jamil
Artikel Terkait
Internasional
2 jam lalu

Sosok Joe Kent, Pejabat Senior Intelijen AS yang Mundur gegara Menentang Perang Iran

Internasional
4 jam lalu

Sri Lanka Tolak Izin Mendarat 2 Jet Tempur AS Bawa Rudal

Internasional
5 jam lalu

Respons Trump, Iran Balik Ancam Akan Hancurkan Semua Fasilitas AS di Timur Tengah

Internasional
6 jam lalu

Trump Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik Iran dalam 48 Jam jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal