"Ada kasus di mana pelatih, ofisial tim, dan atlet ditempatkan di kamar yang sama. Ada juga situasi di mana pembagian kamar dilakukan semata-mata berdasarkan jumlah orang, misalnya memberikan lima kamar twin untuk kelompok yang terdiri dari lima pria dan lima wanita," ujar Wakil Chef de Mission Jepang, Hisashi Mizutori, seperti dilaporkan The Japan Times.
Sementara itu panitia penyelenggara lokal menjelaskan, permasalahan akomodasi tak bisa dihindari karena ada lonjakan jumlah atlet dan ofisial. Mereka awalnya memperkirakan 15.000 peserta, namun angka tersebut membengkak seiring penambahan cabang olahraga baru.
Para atlet juga mengalami kesulitan saat tiba di Bandara Nagoya akibat gangguan teknis yang menghambat keberangkatan. Para atlet dan ofisial sempat tertahan di bandara setelah kesalahan input data, menyebabkan nama banyak atlet tidak tercantum dalam basis data transportasi bandara. Dampaknya staf tidak bisa memberi izin atau memberangkatkan bus jemputan.
Selain itu ketersediaan tempat duduk sangat terbatas mengingat banyaknya atlet, ofisial, pelatih dari berbagai negara dan wilayah yang hadir.
Bahkan, atlet dan rombongan hanya diberi air mineral, padahal mereka tertahan di bandara berhari-hari.