"Jika mendapat (dukungan) 6 dari 68 anggota parlemen pemerintah yang berani, kami bisa berdiri di sisi sejarah yang benar," kata Swarbrick, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (12/8/2025).
Ketua parlemen Selandia Baru Gerry Brownlee marah dengan pernyataan itu dengan mengatakan sama sekali tidak bisa diterima.
Brownlee mendesak Srawbrick menariknya pernyataan dan meminta maaf.
Namun tuntutan itu ditolak Swarbrick. Buntutnya, Brownlee, yang juga memimpin sidang, memerintahkan Srawbrick keluar dari ruang sidang.
Brownlee kemudian mengklarifikasi lagi bahwa Swarbrick bisa mengikuti sidng kembali pada Rabu besok, namun tetap menolak untuk meminta maaf.
Pemerintah Selandia Baru sebelumnya menyatakan akan membuat keputusan mengenai pengakuan negara Palestina pada September.