Pemerintah Belanda mulai melonggarkan aturan lockdown sejak Juni lalu, sementara industri prostitusi sudah diberi lampu hijau untuk kembali beroperasi pada awal Juli ini dari yang awalnya direncanakan baru dibuka pada September mendatang.
Meskipun bisa memutar roda usahanya dengan memperhatikan protokol kesehatan seperti mengenakan masker, mencuci angan, serta membatasi kontak fisik, masih banyak pekerja seks yang enggan kembali karena khawatir tertular Covid-19.
Hal ini diungkapkan Eric Hammaker, seorang pemilik gerai di distrik merah De Wallen yang juga membawahi beberapa pekerja seks. Hammaker mengatakan geliat di De Wallen sangat bergantung pada kuantitas kunjungan wisatawan mancanegara.
Jika sampai beberapa bulan kedepan pandemi masih berdampak pada sektor pariwisata dan jasa perjalanan, besar kemungkinan perekonomian distrik merah De Wallen mengalami 'resesi'.
"Beberapa perempuan telah keluar dari industri ini. Mereka takut risiko terinfeksi Covid-19 dan kekhawatiran umum mengenai pemasukan," kata Hamaker.
"Tanpa turisme tidak akan mungkin bagi sejumlah perempuan pekerja seks bisa mendapatkan penghasilan melimpah seperti sebelumnya. Setidaknya 70 persen pemasukan distrik ini berasal dari turisme," lanjutnya.