JAKARTA, iNews.id - Langkah tak biasa dilakukan China dengan membatasi wilayah udaranya selama 40 hari di kawasan lepas pantai. Kebijakan ini langsung memicu perhatian dunia karena durasinya yang panjang dan minim penjelasan resmi dari pemerintah.
Pembatasan tersebut diberlakukan melalui sistem pemberitahuan penerbangan (NOTAM) sejak akhir Maret hingga awal Mei 2026. Area yang terdampak mencakup wilayah luas dari Laut Kuning hingga Laut China Timur, bahkan disebut lebih besar dari wilayah utama Taiwan.
Meski tidak sepenuhnya menutup jalur penerbangan sipil, kebijakan ini tetap membatasi aktivitas di udara, khususnya untuk kepentingan tertentu yang belum diungkap secara rinci. Pesawat komersial masih diizinkan melintas dengan koordinasi khusus, namun pengawasan di area tersebut diperketat.
Seiring munculnya berbagai spekulasi, sejumlah analis akhirnya mengungkap kemungkinan alasan di balik langkah tersebut. Pembatasan jangka panjang ini diduga kuat berkaitan dengan aktivitas militer, termasuk latihan berskala besar atau simulasi operasi udara yang tidak diumumkan ke publik.
Durasi hingga 40 hari dinilai tidak lazim. Dalam praktik sebelumnya, pembatasan wilayah udara oleh China umumnya hanya berlangsung beberapa hari dan selalu dikaitkan dengan latihan militer terbuka. Hal ini membuat kebijakan terbaru dianggap sebagai indikasi adanya peningkatan kesiapan militer dalam jangka panjang.