Dua terduga penyerang dilaporkan sudah ditangkap.
Gen Z Menuntut Keadilan
Menurut polisi nasional Nepal, tidak ada korban luka parah dalam bentrokan 19 November. Namun para demonstran justru kembali turun ke jalan sehari setelahnya. Mereka menuntut penangkapan penuh terhadap semua pelaku penyerangan, jaminan perlindungan terhadap aktivis muda, penghapusan intimidasi dari kelompok pro-Oli.
Aksi yang terus berulang ini menunjukkan ketegangan yang belum pulih sejak September.
Akar Masalah: Luka September Belum Sembuh
Demonstrasi besar-besaran pada 8-9 September yang menewaskan 76 orang masih menyisakan trauma mendalam bagi publik Nepal. Massa membakar gedung parlemen, pengadilan, dan kantor pemerintah.
Gen Z, yang menjadi motor utama protes September, merasa perubahan politik pasca-kerusuhan belum menghasilkan keadilan, terutama terkait korban dan pelaku kekerasan. Ketika kelompok pro-Oli kembali aktif di ruang publik, kecurigaan dan kemarahan pun kembali menyala.
Demonstrasi rusuh di Nepal pada September lalu dilatarbelakangi pemblokiran platform media sosial lantaran tidak memenuhi peraturan untuk mendaftar ke Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi sesuai batas waktu yang ditentukan. Akibatnya warga tak bisa mengakses berbagai platform media sosial seperti X, Instagram, Facebook, YouTube, serta aplikasi pesan singkat WhatsApp dan Telegram.
Namun pemerintah mencabut pemblokiran setelah demo rusuh yang awalnya menewaskan 21 orang.
Selain itu massa juga memprotes kondisi perekomian yang membuat orang-orang muda sulit mencari pekerjaan sehingga memilih bekerja di luar negeri serta maraknya korupsi.