Namun saat hadir di pengadilan, dia mendapat kabar bahwa sidangnya ditunda karena hakim punya urusan mendadak terkait keluarga.
Dia lalu dipanggil ke kantor polisi untuk mengambil telepon genggamnya. Saat itulah Sahar mendapat informasi dari petugas bahwa untuk kasus seperti ini pelakunya bisa dihukum penjara antara 6 bulan hingga 2 tahun.
Mendengar informasi itu, Sahar syok dan membakar diri di depan gedung pengadilan setelah menyiram tubuhnya dengan bensin. Dia lalu dinyatakan meninggal di rumah sakit sepekan setelah menjalani perawatan akibat menderita luka bakar 90 persen.
Kapten tim nasional Iran, Masoud Shojaei, mengunggah pesan di akun Instagram sebagai bentuk keprihatinan atas tewasnya Sahar serta kritikan atas aturan lama yang diterapkan kembali secara sepihak.
"Ketika kita dikejutkan oleh aturan lama pembatasan yang diterapkan untuk perempuan, generasi mendatang akan terkejut melihat (mengetahui) bahwa perempuan dilarang memasuki stadion olahraga di masa kita. Asal usul pembatasan semacam ini merupakan pemikiran masa lalu yang busuk dan menjijikkan dan tidak akan bisa dipahami generasi mendatang," ujarnya.
Perempuan Iran dilarang menonton acara olahraga yang dimainkan atlet pria sejak 1981. Namun aturan tak tertulis itu dicabut pada tahun lalu dan memungkinkan perempuan mengikuti nonton bareng Piala Dunia di sebuah stadion Teheran.
Badan sepak bola dunia FIFA menetapkan batas waktu 31 Agustus bagi Iran untuk mengizinkan perempuan masuk stadion, sesuatu yang belum dijamin negara itu.