Nahasnya, militer Israel saat ini tidak memiliki alat untuk menangkalnya karena tidak mempersiapkan diri untuk menangani bahan peledak berteknologi rendah.
Tidak seperti drone konvensional yang dipandu GPS atau radio sehingga bisa dicegat, drone kamikaze Hizbullah menggunakan perangkat yang terhubung ke lokasi peluncurannya melalui kabel serat optik yang membentang hingga puluhan kilometer.
Operator mengendalikan drone secara FPV, menggunakan layar atau kacamata realitas virtual yang hanya membutuhkan pelatihan terbatas.
“Karena tidak mengirim gambar melalui siaran radio dan tidak menerima perintah panduan melalui penerima radio, drone tersebut tidak bisa dideteksi perangkat intelijen elektronik atau diblokir melalui peperangan elektronik,” kata Arie Aviram, pakar yang menulis penelitian ini untuk INSS.
Kecepatan dan ketepatan drone bisa menyebabkan kerusakan cukup besar pada target Israel, dan kurangnya jejak elektronik membuat pasukan bergantung pada radar atau deteksi visual, yang seringkali terlambat.