"Ini adalah foto yang tenang namun berbicara lantang. Foto ini bukan hanya menceritakan kisah seorang bocah laki-laki, tapi juga tentang perang lebih luas yang akan berdampak selama beberapa generasi," kata Joumana El Zein Khoury, direktur eksekutif World Press Photo.
Juri memuji foto itu karena memiliki komposisi kuat, pencahayaan, serta subjek yang menggugah pikiran. Foto itu dianggap dapat menggugah orang-orang yang melihatnya untuk bertanya tentang bagaimana masa depan Ajjour.
Juri juga memuji foto tersebut karena mampu menggambarkan dehumanisasi pada suatu wilayah.
Selain itu foto berlatar belakang perang Israel di Gaza tersebut dipilih karena serangan Israel tanpa henti terhadap jurnalis. Israel juga masih menolak akses masuk terhadap wartawan internasional yang berusaha mengungkap realitas perang.
Ajjour kini belajar melakukan aktivitas menggunakan kaki, termasuk menulis dan membuka pintu. Namun dia masih membutuhkan bantuan untuk banyak aktivitas sehari-hari, seperti makan dan berpakaian.
“Mimpi Mahmoud sederhana, dia ingin mendapatkan prostetik dan menjalani hidupnya seperti anak-anak lainnya,” kata penyelenggara World Press Photo.