"Jika persyaratan tertentu dipenuhi, Selat Hormuz akan dibuka pada akhir tujuh hari dan pembicaraan akan dimulai kembali," ucap Araghchi kepada wartawan di sela-sela Sidang Umum PBB di New York.
Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran Esmaeil Baghaei, persyaratan tersebut mencakup penghentian apa yang disebut Teheran sebagai tindakan agresi AS, pencabutan blokade laut dan perang ekonomi, serta pelepasan aset-aset Iran.
Perkembangan tersebut kembali menambah ketidakpastian di pasar energi. Sebelumnya, laporan mengenai kesiapan Iran membuka Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari jika tekanan militer AS dikurangi telah mendorong harga minyak turun karena pasar melihat peluang gangguan pasokan mereda.
Secara terpisah, koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman pada Sabtu mengatakan telah mencegat sejumlah proyektil yang diluncurkan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur energi strategis dunia. Iran sebelumnya menyatakan jalur tersebut dapat dibuka kembali dalam waktu tujuh hari jika AS mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Trump sebelumnya mengatakan konflik yang dimulai setelah serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari diperkirakan berakhir setelah pemilihan paruh waktu AS. Pernyataan tersebut sebelumnya ikut mendorong penurunan harga minyak.