Sementara itu eskalasi terbaru pada Kamis dipicu pemasangan ranjau darat oleh militer Kamboja di sepanjang perbatasan yang disengketakan. Setidaknya enam tentara Thailand menjadi korban ranjau darat, dua di antaranya kehilangan anggota tubuh.
Klaim Kamboja atas beberapa wilayah di tepi perbatasan terdapat dalam peta 1907 yang dibuat pada masa penjajahan Prancis. Namun, ketidakjelasan peta tersebut menyebabkan interpretasi yang saling bertentangan. Thailand membantah klaim wilayah Kamboja.
Kedua pihak berusaha menyelesaikan perselisihan secara diplomatis, namun masalah tersebut tidak pernah terselesaikan sepenuhnya. Bahkan setelah badan-badan transnasional seperti Mahkamah Internasional (ICJ) turun tangan pada 1962, masalah tak juga terpecahkan.
Thailand mengklaim demarkasi belum selesai untuk bagian luar wilayah berdekatan dengan kuil Preah Vihear, yang diputuskan sebagai wilayah Kamboja oleh ICJ dengan hasil keputusan 9 banding 3 pada 1962.
Pada 2011, ICJ memerintahkan kedua negara untuk menarik pasukan dan menetapkan zona demiliterisasi, namun Mahkamah tidak memutuskan siapa yang akan mengendalikan wilayah sengketa lebih luas. Ketidakjelasan itu membuat pasukan dari kedua negara terus bentrok.
Kemudian pada November 2013, ICJ memutuskan bahwa Kamboja memiliki kedaulatan atas seluruh wilayah kuil Preah Vihear, sehingga Thailand wajib menarik personel militernya dari wilayah tersebut. Tentu saja Thailand tak menerimanya.