Meski pernyataannya bernada keras, Kim tidak sepenuhnya menutup pintu diplomasi dengan Trump. Dia tetap membuka peluang berdialog dengan AS, namun dengan satu syarat tegas, Korea Utara tidak akan melepaskan senjata nuklirnya.
Korea Utara diyakini telah memiliki puluhan hulu ledak nuklir. Tidak seperti Iran atau Venezuela, negara itu mengklaim memiliki sistem pengiriman yang mampu menjangkau daratan utama AS, meskipun belum pernah diuji sepenuhnya.
Baru-baru ini, Korea Utara memamerkan sejumlah uji coba senjata, termasuk peluncuran rudal jelajah dari kapal perang baru serta roket yang disebut mampu membawa hulu ledak nuklir. Dalam kongres Partai Buruh bulan lalu, Kim berjanji akan memperluas persenjataan nuklir negaranya dengan meningkatkan jumlah senjata dan sistem peluncurnya.
Kim juga menampilkan putrinya yang masih remaja, Kim Ju Ae, dalam berbagai acara militer. Langkah ini memberi sinyal, program nuklir Korea Utara tidak hanya bersifat permanen, tetapi juga berlanjut lintas generasi.
Di saat bersamaan, Pyongyang memperkuat hubungan dengan Rusia. Media pemerintah Rusia menayangkan latihan pasukan Korea Utara di dekat garis depan Ukraina, menggambarkan kerja sama militer kedua negara itu semakin erat.
Korea Utara bahkan dilaporkan mengirim amunisi artileri, roket, serta ribuan pasukan untuk mendukung perang Rusia di Ukraina. Sebagai imbalannya, Pyongyang disebut menerima bantuan pangan, bahan bakar, serta kemungkinan teknologi militer sensitif dan data medan perang.