“Saya butuh tidur lebih banyak,” kata Amarai, menirukan pernyataan Takaichi , seperti dikutip dari Kyodo.
Sejak pindah ke kediaman dinas pada akhir 2025 bersama suaminya, perempuan 65 tahun itu berusaha memaksimalkan waktu untuk bekerja. Rumah dinas yang berlokasi dekat kantor seharusnya memudahkan mobilitas, namun justru memperlihatkan betapa padatnya aktivitas yang harus dijalani setiap hari.
Dalam rapat komite parlemen awal April lalu, Takaichi mengakui waktu tidurnya sangat terbatas. Dia menyebut sebagian waktunya tersita untuk urusan rumah tangga, sementara sisanya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan negara.
Tak hanya itu, Takaichi juga berusaha membawa pekerjaan kantor ke rumah agar tidak membebani ajudan dan pengawal dengan jam kerja tambahan. Langkah ini justru membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur.
Takaichi memenangkan kursi ketua Partai Demokratik Liberal (LDP) pada Oktober 2025 yang mengantarkannya menjadi perdana menteri perempuan pertama Jepang. Dalam pidatonya saat itu, dia berjanji akan “kerja, kerja, kerja,” slogan yang kini benar-benar dia jalani, meski harus dibayar dengan kelelahan, kurang tidur, hingga kisah kehabisan makanan di rumah dinas.