Bantuan asing terus mengalir dari luar negeri. Angkatan Udara Sri Lanka kedatangan satu pesawat penuh pasokan dari Myanmar, gelombang bantuan terbaru yang tiba.
Pemerintah juga meluncurkan paket bantuan untuk membangun kembali rumah dan menghidupkan kembali bisnis yang hancur akibat bencana dahsyat tersebut.
Seorang pejabat senior Sri Lanka sebelumnya mengatakan, pemulihan dan rekonstruksi mungkin menelan biaya hingga 7 miliar dolar AS atau sekitar Rp117 triliun.
Dana Moneter Internasional (IMF) mempertimbangkan permintaan Sri Lanka untuk tambahan utang 200 juta dolar AS guna membantu pembangunan kembali. Dana tersebut merupakan tambahan dari dana talangan 347 juta dolar yang akan jatuh tempo pada akhir Desember, bagian dari pinjaman IMF senilai 2,9 miliar dalam 4 tahun yang disepakati pada 2023.