Dia menjalankan tugas sebagai muazin bersama tiga tetangganya secara bergiliran hingga menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Setelah itu, Al Madani sempat berhenti menjadi muazin karena harus bekerja sebagai pengajar di luar Madinah.
Al Madani kemudian mendapat undangan untuk kembali mengumandangkan azan di Masjid Al-Maddah sekitar 2007-2008, Dia menjalankan tugas tersebut hingga akhirnya mendapat kesempatan menjadi muazin di Masjidil Haram. Al Madani secara resmi ditunjuk sebagai muazin Masjidil Haram pada sekitar 2017-2018.
Lahir dan besar di Madinah membuat Al Madani sangat dipengaruhi tradisi serta gaya azan khas Madinah. Namun, dia juga mengenal karakteristik azan khas Makkah setelah mengunjungi kota tersebut bersama ayahnya. Dalam kunjungannya, Al Madani bertemu Sheikh Abdul Latif Mulla, mantan muazin Masjidil Haram sekaligus sahabat kakeknya.
Al Madani tercatat sebagai salah satu dari 24 muazin utama Masjidil Haram. Enam di antaranya bertugas bergiliran setiap hari untuk mengumandangkan azan lima waktu salat serta azan salat Subuh.
Al Madani dikenal luas lewat lantunan azan Subuh dan takbirnya. Dia juga bertugas menyampaikan tabligh.