JENEWA, iNews.id – Myanmar menolak dengan tegas kehadiran tim penyelidik hak asasi manusia (HAM) PBB. Bahkan pemerintah tidak mau memberikan akses masuk dan bekerja sama kepada penyelidik PBB.
Penyelidik khusus PBB Yanghee Lee mengatakan, dirinya akan berkunjung ke Myanmar pada Januari 2018 untuk melihat langsung kondisi penegakan HAM di sana. Dia juga akan mewawancarai warga etnis Rohingya di Negara Bagian Rakhine. Namun dia tidak mendapat izin untuk masuk.
"Pernyataan tidak mau berkerja sama dengan tugas yang saya emban ini bisa memberikan indikasi yang kuat bahwa ada sesuatu yang sangat mengerikan di Rakhine, sebagaimana di daerah lainnya," kata Lee, dikutip dari Reuters, Rabu (20/12/2017).
Sebelumnya, Komisi HAM PBB mengindikasikan militer Myanmar melakukan pembersihan etnis terhadap Muslim Rohingya. Pejabat Komisi HAM PBB Zeid Ra'ad Al Hussein mengatakan, militer Myanmar melakukan tindakan mengerikan dengan menghabisi Muslim Rohingya, yakni membakar banyak orang sampai tewas di dalam rumah mereka, membunuh anak-anak dan orang dewasa, menembak tanpa pandang bulu terhadap warga sipil yang melarikan diri, memerkosa perempuan dewasa dan anak-anak, serta membakar dan penghancuran rumah, sekolah, pasar, dan masjid.
"Adakah yang bisa mengesampingkan bahwa unsur pembasmian etnis tidak ada?" kata Zeid, dalam laporannya di kantor PBB, Selasa 5 Desember 2017.
Dia meminta dewan merekomendasikan Sidang Umum untuk menyepakati mekanisme penyelidikan terhadap individu-individu yang bertanggung jawab atas pembersihan etnis ini.