Penambahan kekuatan tersebut dinilai sebagai langkah antisipasi jika situasi antara Israel dan Iran kembali memburuk.
Kekhawatiran terhadap kemungkinan serangan Iran menjadi semakin sensitif karena waktunya berdekatan dengan agenda politik penting di Israel dan AS.
Pemilu Israel dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober, sedangkan pemilu AS digelar pada 3 November.
Pejabat Israel tersebut menilai musuh-musuh negaranya memahami bahwa serangan menjelang pemilu dapat menciptakan tekanan keamanan dan politik. Namun, mereka juga disebut berhati-hati agar serangan tidak berkembang menjadi konflik regional berskala lebih besar.
Di sisi lain, Israel tampaknya tidak ingin menunggu sampai serangan terjadi. Persiapan menghadapi kemungkinan serangan rudal Iran terus dilakukan, sementara koordinasi dengan militer AS diperkuat.
Situasi ini membuat periode menjelang pemilu Israel dan AS menjadi salah satu fase sensitif dalam hubungan Israel-Iran. Setiap serangan baru berpotensi tidak hanya memicu respons militer, tetapi juga memengaruhi kondisi keamanan dan politik kedua negara.