Mojtaba ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru oleh Dewan Ulama pada awal Maret, sepekan setelah kematian ayahnya akibat serangan gabungan AS-Israel.
Sumber-sumber pejabat senior Iran mengindikasikan Mojtaba mengalami luka padah dan trauma berat akibat serangan tersebut. Dia berada di lokasi saat serangan terjadi, merenggut nyawa ayah serta empat anggota keluarga.
Laporan juga menyebutkan Mojtaba menderita luka di wajah dan dan anggota tubuh lainnya.
Meski dalam masa pemulihan, kesehatannya belum cukup prima untuk bisa tampil di hadapan publik.
Selain itu, intelijen dilaporkan membatasi penampilannya karena kekhawatiran pembunuhan oleh AS dan Israel.