Sebuah petisi daring pun diluncurkan dengan dukungan dari organisasi hak asasi manusia Brasil dan internasional. Mereka berusaha mengumpulkan 100.000 tanda tangan untuk meminta tindakan tegas pemerintah terhadap para penambang ilegal di Amazon.
Organisasi seperti Survival International dan kelompok hak masyarakat asli Brasil Instituto Socioambiental (ISA) memperkirakan, ada sekiatar 20.000 penambang ilegal beroperasi di wilayah Yanomami. Wilayah hutan Amazon itu memiliki luas sekitar 96.000 kilometer persegi.
Perambahan oleh penambang ilegal adalah masalah yang sudah berulang kali terjadi di Brasil. “Akan tetapi, dengan adanya pandemi ini, masalahnya sekarang menjadi semakin mendesak,” kata peneliti ISA, Antonio Oviedo.
Sebuah studi yang dilakukan Universitas Minas Gerais baru-baru ini menunjukkan, sebanyak 40 persen orang Yanomami yang tinggal dekat dengan daerah pertambangan berisiko terinfeksi virus corona. Sementara, para penambang menjadi semakin berani berbuat semena-semena karena sikap Presiden Bolsonaro yang membela eksploitasi tanah adat.
“Konteks politik sama sekali tidak menguntungkan. Kami memiliki Menteri Lingkungan Hidup (Ricardo Salles) yang melihat pandemi sebagai kesempatan untuk meloloskan undang-undang yang melemahkan perlindungan lingkungan. Tetapi di sisi lain, adalah tanggung jawab negara untuk menghentikan kegiatan ilegal dan kriminal ini,” kata Oviedo.
Per hari ini, lebih dari 500.000 kasus infeksi Covid-19 terkonfirmasi di Brasil. Dari jumlah itu, hampir 30.000 di antaranya adalah kasus kematian. Brasil menjadi negara dengan dampak pandemi Covid-19 terburuk kedua di dunia setelah Amerika Serikat.