"Hampir setiap hari beliau ada di lokasi, penuh risiko, berbahaya, seorang wanita. Beliau datang tuh tidak digaji, datang dari pukul 07.00 sampai 22.00. Coba bayangkan, siapa yang kuat, dia datang ke tenda-tenda perawatan," tutur relawan yang sudah berada di Gaza sejak 2011 itu.
Husein melanjutkan, menurut informasi dari teman-teman almarhumah, begitu besar keinginan Razan untuk menolong sampai-sampai dia membeli peralatan medis sendiri. Padahal ekonomi keluarganya sangat pas-pasan.
"Dia memaksakan diri membeli kebutuhan medis sendiri, seperti kapas, alkohol untuk mengobati luka. Kebutuhan medis yang digunakan untuk operasi emergency itu dia beli sendiri," ujarnya.
Lebih lanjut Husein menceritakan, berdasarkan kesaksian dari teman almarhumah yang berada di lokasi penembakan, Razan menuju garis terdepan pagar pembatas karena saat itu ada beberapa warga sipil yang tertembak.
"Darah mengalir, bergelimang darah, sementara medis dilarang untuk mendekat oleh militer. Namun Razan ini nekat, dia bergerak maju lalu diingatkan oleh temannya, 'Razan jangan medekat, mereka tentara israel sedang membabi buta," tutur Husein, menceritakan kembali pernyataan rekan almarhumah.