Pada Januari lalu, Hyundai dan Uber juga mengumumkan bahwa mereka berkolaborasi dalam mengembangkan “taksi udara” serbalistrik.
Analis Morgan Stanley mengatakan mereka memperkirakan taksi udara di kawasan perkotaan akan menjadi pemandangan umum pada 2040. Nilai pasar globalnya diproyeksikan menjadi 1,4 triliun dolar AS (20.365,8 triliun) hingga 2,9 triliun dolar AS (42.186,3 triliun) pada saat itu.
Akan tetapi, faktor keselamatan masih menjadi salah satu dari dua tantangan yang mencegah teknologi terebut digunakan secara luas untuk saat ini, kata asisten profesor teknik dan mekanik kedirgantaraan di University of Minnesota, Derya Aksaray. “Teknologi otonom yang aman untuk pesawat eVTOL masih dikembangkan,” ujarnya.
Tantangan lainnya adalah desain. Kendaraan tersebut harus cukup kuat untuk membawa beban yang diperlukan, namun cukup tenang untuk diterbangkan di ketinggian rendah—yang ukurannnya belum diatur.
Sementara, profesor teknik kedirgantaraan di Universitas Michigan, Ella Atkins, mengungkapkan pandangan yang berbeda tentang kepraktisan mesin eVTOL.
“(Teknologi ini) akan lebih hemat energi daripada helikopter yang menggunakan banyak bahan bakar. Akan tetapi, (eVTOL) kurang hemat energi daripada mobil karena mereka juga harus mengangkat dirinya sendiri,” ujarnya.
“Dari segi biaya pun, mereka tidak begitu praktis digunakan untuk sekadar pergi ke toko makanan,” ujarnya.
Atkins mengatakan mesin ini mungkin lebih cocok digunakan untuk komunitas satelit di kota-kota atau negara-negara dengan medan yang sulit.