MINNEAPOLIS, iNews.id - Penembakan brutal yang dilakukan agen Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) Amerika Serikat terhadap Alex Pretti masih menjadi perbincangan hangat sampai saat ini. Pretti, seorang perawat ICU di rumah sakit Kota Minneapolis, Minnesota, ditembak berulang kali saat petugas melakukan razia imigrasi, Sabtu (24/1/2026).
Polisi senior serta pakar kepolisian menilai, penembakan yang dilakukan agen ICE yang namanya masih dirahasiakan itu berlebihan. Pakar pelatihan kepolisian dan penanganan huru-hara menilai, masalah sudah timbul sebelum tembakan dilepaskan.
Sebelum pembunuhan Pretti, petugas imigrasi telah bertindak provokatif, menimbulkan pertanyaan serius di kalangan pakar penegak hukum, mantan polisi, serta ahli hukum.
Video yang beredar di media sosial menunjukkan, para agen mendorong kerumunan di sekitar lokasi kejadian dan menyerang mereka dengan semprotan merica dari jarak dekat.
Para ahli menilai, petugas seharusnya melakukan pendekatan persuaif terlebih dulu sebelum menggunakan kekerasan. Tindakan yang dianggap banyak kalangan sebagai kesalahan langkah serta pelanggaran protokol yang berujung pada rentetan tembakan.
Penembakan Pretti merupakan kejadian kedua dilakukan petugas imigrasi federal sepanjang Januari di Minneapolis. Seorang ibu, Renee Good, ditembak mati oleh petugas ICE, Jonathan Ross, pada 7 Januari.
Enam pakar kepolisian mengatakan kepada surat kabar The New York Times (NYT), penggunaan kekuatan mematikan hanya dibolehkan jika ada ancaman langsung dan mematikan terhadap petugas atau orang lain.
Marc Brown, polisi senior yang juga mantan instruktur Pusat Pelatihan Penegakan Hukum Federal, mengatakan penembakan tersebut menunjukkan semakin banyaknya contoh perilaku agresif agen federal, pola perilaku yang mengkhawatirkan.
“Ini mengkhawatirkan. Secara keseluruhan, saya kira mereka harus mengevaluasi dan menyusun ulang apa yang sebenarnya mereka lakukan dan apa misi mereka,” kata Brown.
Presiden Donald Trump membela tindakan agen ICE dalam menindak kerumunan saat razia imigrasi. Pemerintahan Trump juga menyalahkan para pemimpin serta aktivis Partai Demokrat karena ikut mengomentari operasi penegakan hukum imigrasi.