Prestasinya dalam operasi tersebut mengukuhkan reputasinya sebagai arsitek kebijakan militer yang tegas dan konservatif. Namun, setelah meninggalkan jabatan, Cheney sempat mundur dari dunia politik dan menjabat CEO perusahaan energi besar, Halliburton Company, hingga awal tahun 2000.
Kembali ke Gedung Putih dan Dorongan Perang Irak
Cheney kembali ke panggung utama politik saat terpilih sebagai wakil presiden mendampingi George W Bush dalam pemilu 2000. Setelah serangan teroris 11 September 2001, pengaruhnya meningkat tajam. Dia menjadi pengarah utama kebijakan keamanan dan pertahanan AS, termasuk invasi ke Irak pada 2003.
Cheney menegaskan bahwa Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal (WMD) dan memiliki hubungan dengan kelompok teroris Al Qaeda. Klaim itu kemudian terbukti tidak benar, namun sudah cukup untuk meyakinkan Kongres dan publik AS agar mendukung perang.
Invasi Irak menumbangkan rezim Saddam Hussein, tapi juga memicu perang berkepanjangan, menewaskan ratusan ribu warga sipil, dan mengacaukan stabilitas Timur Tengah selama bertahun-tahun. Cheney tetap membela keputusan tersebut dengan alasan menjaga keamanan nasional AS dan mencegah ancaman global.
Sosok yang Tegas tapi Kontroversial
Cheney dikenal sebagai figur keras, tertutup, dan sangat berpengaruh di balik layar. Dia jarang tampil di depan publik, tapi keputusannya sering menentukan arah kebijakan Gedung Putih. Banyak pengamat menyebut Cheney sebagai “wakil presiden paling kuat dalam sejarah AS,” karena perannya melampaui batas tradisional jabatan tersebut.