Arkeolog yang juga profesor di American University di Kairo, Salima Ikram, mengatakan, masyarakat Mesir kuno biasanya dimakamkan bersama hewan dan patung hewan. Mereka yakin hewan peliharaan bisa diajak bersama-sama ke akhirat.
Selain itu, ada pula keyakinan bahwa hewan tersebut bisa dijadikan sebagai makanan atau persembahan kepada dewa di akhirat.
"Untuk menyediakan makanan di akhirat, untuk bertindak sebagai persembahan kepada dewa tertentu, serta beberapa kasus dilihat sebagai manifestasi fisik dari dewa tertentu yang disembah oleh orang Mesir," ujarnya, menjelaskan.
Antonietta Catanzariti, seorang kurator di Smithsonian, mengatakan, para ilmuwan menemukan ratusan ribu mumi kucing selama bertahun-tahun.
Bangsa Mesir kuno, jelas Catanzariti, tertarik dengan kemampuan kucing dalam berburu serta melindungi anak-anak mereka. Masyarakat Mesir kuno melihat sifat-sifat itu sebagai tanda-tanda keilahian.
Selain kucing, ada pula patung bersepuh emas yang menggambarkan seekor singa, sapi, elang. Ada juga ular terbuat dari kayu serta buaya.