"Bantuan makanan memang menjadi kebutuhan yang langsung dirasakan penerima manfaat. Namun, kami juga ingin menghadirkan ruang yang membuat anak-anak bisa bermain, berinteraksi, dan mendapatkan pengalaman yang positif," kata Rimanda dalam keterangannya, Jumat (9/10/2026).
"Karena itu, kegiatan ini kami hadirkan tidak hanya dalam bentuk pemberian makanan," sambungnya.
Menurut Rimanda, kebutuhan masyarakat terdampak konflik dapat berubah seiring dengan kondisi yang mereka hadapi. Oleh karena itu, bentuk bantuan perlu menyesuaikan kebutuhan penerima manfaat, termasuk anak-anak yang memerlukan kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
"Kami melihat kebutuhan masyarakat tidak selalu berhenti pada saat bantuan darurat tersalurkan. Kondisi di lapangan terus berubah, sehingga bentuk bantuan juga perlu menyesuaikan kebutuhan penerima manfaat, termasuk kebutuhan anak-anak untuk mendapatkan dukungan sosial dan ruang interaksi," katanya.
Mesir menjadi salah satu negara tempat berlindung bagi masyarakat terdampak konflik, termasuk pengungsi Palestina. Kondisi ini turut menjadi perhatian dalam pembahasan mengenai kebutuhan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat yang berada di negara tersebut.