"Air (sungai) masuk ke tiga terowngan. Saat orang berusaha keluar, tidak ada jalan karena air mengalir deras dan tekanan tinggi," kata Jean dikutip dari AFP, Sabtu (12/9).
"Hujan lebat juga menyebabkan tanah longsor," lanjutnya.
Wali kota memutuskan masa berkabung selama dua hari dan meminta penduduk setempat untuk membantu tim penyelamat mengeluarkan mayat-mayat dari tambang.
Kecelakaan tambang di Kongo sering kali terjadi dan merenggut banyak korban jiwa. Lokasi tambang yang berada di daerah terpencil menjadi alasan insiden kerap tidak dilaporkan.
Para penambang ilegal menjual apa yang mereka temukan ke pedagang lokal, yang kemudian menjualnya ke perusahaan asing besar.
"Penyelidikan harus dilakukan untuk mengetahui penyebab bencana ini," kata perwakilan masyarakat sipil, Nicolas Kyalanglilwa.
"Pihak berwenang harus mengambil tanggung jawab alih-alih mengenakan pajak para penambang ini," tambahnya.